Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.

Omah Perden.
"Perden lan Pangguloewenthah Adhedasar Tatanan Rasa."


nanaditya.com
"Salah satu sudut Omah Perden "



Sejenak kening saya berkerut membaca undangan untuk Blogger di acara soft opening “Omah Perden”. Disana ada beberapa tema seminar yang bisa diikuti oleh blogger. Boleh memilih salah satu atau mengikuti semua seminarnya. Bahkan ada juga masa uji coba selama kurun waktu beberapa minggu.

Menimbang waktu , akhirnya saya memilih mengikuti seminar yang bertema : “Pengasuhan Berbasis Tradisi”.  Oke. Dari sekian tema yang dijadwalkan selama dua hari. Disamping saya bisa di waktu tersebut, temanya juga menarik perhatian. Ada beberapa pertanyaan yag aku pikirkan, “ Sejauh mana nilai tradisi bisa dipertahankan di era sekarang ini? Masih relevan kah? . Jika iya, nilai yang seperti apa yang bisa diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang?”

Sekarang ini memang tradisi sudah agak ditinggalkan, karena bergeser dengan pola-pola pengasuhan yang dianggap lebih modern dan lebih dipandang bertaraf international, katanya. Selama ini aku pun juga nggak begitu sadar, bahwa ternyata banyak referensi yang dibaca oleh para orangtua (termasuk aku), lebih mengedepankan pola-pola pengasuhan modern, ketimbang pola tradisional.

Nggak usah jauh-jauh contohnya, dalam mengajarkan bahasa atau lagu kepada anak kita. Kita lebih pede kalau anak diajarkan memakai bahasa indonesia atau bahkan kita sebagai orang tua lebih bangga kalau anak fasih memakai bahasa asing. Tapi sangat jarang atau bahkan tidak pernah mengajarkan bahasa Jawa (karena saya dari suku Jawa) kepada anak-anak. Lha gimana nanti kalau di sekolah teman-teman ngomong pakai bahasa indonesia semua, atau bahkan di sekolah tertentu sudah biasa ngomong pakai bahasa inggris. Dimanapun tempat udah umum ngomong pakai bahasa indonesia, bukan bahasa Jawa. Sebenarnya perlukah kita mengajarkan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu-nya orang Jawa?. Oke. Skip disini dulu.

Sampai lokasi, sebelum masuk ruang seminar, saya melewati beberapa spot yang banyak sekali terdapat permainan-permainaan yang didominasi oleh permainan tradisional.
" sarana bermain pasir"



"Dakon"

"Pojok bermain kental dengan suasana tradisi Jawa"

"Boneka tangan"


Wah, banyak banget deh jenis mainan tradisionalnya. Takut terlambat, lalu saya segera masuk ruangan dan duduk di barisan paling depan saat seminar itu. Pembicara duduk dengan anggun dan luwes, memakai baju kebaya simpel warna hijau. Beliau bernama Ibu Gamayanti. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan beliau dari Psikologi. Pembawaannya sangat mewakili ras Jawa. Garis mukanya ramah, gaya bicara lembut, dan keliatan kalau beliau orangnya sabar. Sangat cocok dan menjiwai peran beliau sebagai psikolog tumbuh kembang.




Saya dan ibu Gamayanti, pembicara sekaligus psikolog Omah Perden.


Diantara  penjabaran-penjabaran beliau tentang “Pengasuhan berbasis Tradisi”, ada beberapa hal yang cukup bisa jadi catatanku tentang pengasuhan, antara lain :
1.       Sebenarnya bukan masalah di pola berbasis tradisi atau nasional atau internasional. Tetapi bagaimana kita menanamkan nilai positif ke anak-anak, dengan pola pengasuhan yang benar.
2.       Mengapa sebaiknya para orangtua penting untuk menerapkan pola pengasuhan berbasis tradisi kepada anak kita?
Bangsa Indonesia memiliki banyak suku, ras dengan masing-masing tradisi yang tumbuh dan terwujud dari kearifan lokal tanah dan budaya dari daerah masing-masing. Tradisi yang muncul itu bukan tanpa sengaja, tetapi tumbuh dari kebaikan –kebaikan tanah leluhur yang dilengkapi dengan karakter dan sesuai dengan letak geografis masing-masing daerah. Tradisi jawa, membentuk karakter suku jawa. Tradisi sunda membantuk pola dan karakter suku sunda, dan lain sebagainya.
3.       Apa yang bisa kita terapkan dari sebuah pola pengasuhan berbasis tradisi?
Sebelum lebih lanjut bicara tentang pola berbasis tradisi, ada baiknya saya menjelaskan tentang apa itu “Omah Perden”.
Dilihat namanya, cukup unik. Jawa banget. Kalau orang sudah antipati dengan yang berbau tradisional, mungkin agak sungkan untuk mengenal lebih dalem. Tapi ternyata menurut saya, Omah Perden dari yayasan Kemuning Kembar ini adalah sebuah Lembaga yang luar biasa.

“ Omah Perden diambil dari kata Omah yang berarti rumah. Sedangkan perden diambil dari kata dasar Perdi yang dalam bahasa Jawa adalah diwulang wuruk amurih becike, diwanuhake nindakake tata pranata kang becik yang berarti diajarkan dan dibiasakan untuk melakukan sesuatu yang baik.”

Omah perden ini adalah rumah stimulasi dan pengembangan diri di bawah naungan LPDK Kemuning Kembar. Sebuah rumah yang dipakai sebagai tempat untuk mengajarkan dan membiasakan seseorang melakukan sesuatu yang baik. Hal ini sejalan dengan teori-teori perkembangan, bahwa stimulasi perlu dilakukan sejalan dengan tahapan perkembangan dan kebutuhan masing-masing individu.

Omah perden hadir untuk memfasilitasi pengembangan diri. Oleh sebab itu, program kegiatan stimulasi kami berikan mulai anak usia dini, remaja dan dewasa. Berbagai kegiatan stimulatif yang dilakukan di Omah Perden disusun dan dipersiapkan dengan memperhatikan tradisi dan budaya Nusantara terutama Jawa sebagai dasar dan media penyampaian.
Aspek-aspek perkembangan yang di stimulasi di Omah Perden mencangkup aspek kognitif, emosi, Sosial, motorik, bahasa, karakter. Semua lengkap disana. Lengkap dengan pendampingan psikologis untuk anak, untuk orangtua, laporan hasil stimulasi yang bisa dimanfaatkan sebagai review untuk orangtuanya.

Seperti latar belakang dari berdirinya Omah Perden, maka ada banyak pola pengasuhan yang bisa diimplementasikan untuk menstimulasi perkembangan kognitif, emosi, sosial, bahasa, psikomotor dan pembentukan karakter yang berdasarkan pada “ rasa”, yang disusun berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan dipersiapkan denganmemperhatikan tradisi dan budaya Nusantara, terutama budaya Jawa, sebagai dasar dari media penyampaian.
Lanjut lagi ke pertanyaan di atas, “ Apa yang bisa kita terapkan dari sebuah pola pengasuhan berbasis tradisi?. Dan Aspek perkembangan apa aja yang perlu di stimulasi ?

Ibu Gamayanti memaparkan, setidaknya ada 5 aspek yang menjadi perhatian kita, orang tua. Di aspek-aspek inilah kita bisa menerapkan pola pengasuhan berbasis tradisi.
a.       Aspek Emosi.
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan merasa dan perasaan. Dalam mengasuh, terkadang orang tua memakai pola pikir rang tua. Padahal, tidak semestinya begitu. “Yang kita asuh ini anak-anak, bukan orang desawa seperti orang tuanya. “,kata Ibu Gamayanti dengan tegas disampaikan saat itu. Disampiang itu, terkadang terlalu memakai logika, bukan perasaan. Padahal penting memakai perasaan saat mengasuh anak.
Coba pola pengasuhannya bukan “anak mengikuti pola pikir orang tua, tetapi orang tua merasakan apa yang dipikirkan sang anak, sehingga orang tua akan dengan mudah memahami keinginan anak.”

b.      Aspek Sosial
Kemampuan berhubungan sosial yang dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya. Untuk aspek soial ini, pengasuhan berbasis tradisi jawa bisa dilakukan dengan mengajarkan berbagai tembang dolanan kepada anak-anak, misalnya pok ame-ame, ci luk ba, jamuran. Tembang memungkinkan anak-anak berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga bermanfaat untuk menstimulasi anak agar bisa menjalin hubungan dan kerjasama yang baik kepada orang lain.
Selain itu, mengajarkan sebuah tanggapan kepada orang lain seperti : Matur nuwun, nyuwun, kulo nuwun. Ini adalah sebuah proses interaksi budaya atau tradisi jawa yang  memiliki nilai pada aspek sosial.

c.       Aspek motorik.
Aspek motorik berhubungan dengan koordinasi gerak tubuh yang meliputi motorik halus dan kasar.
Aktifitas yang mengasah atau menstimulasi kemampuan motorik halus ternyata bukan hanya belajar berhitung atau bernyanyi,  tetapi saat anak belajar menahan diri untuk tidak merebut mainan temannya atau belajar menahan diri untuk tidak memukul temannya, itu juga bisa dikategorikan sebagai aktivitas yang mengasah motorik halus.
Sedang stimulasi untuk melatih kemampuan kasar ada banyak macamnya, misalnya : bermain egrang, bermain gobak sodor, bermain kelereng, engkleng danlain sebagainya. Banyak permainan tradisional jawa yang ternyata memberikan banyak manfaat untuk stimulasi banyak aspek tumbuh kembang anak.

d.      Aspek Bahasa.
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan berbicara dna berbahasa. Aspek ini menjadi penting, karena sebagai salah satu komponen untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Yang menarik dari seminar saat itu adalah menurut ibu Gamayanti, penting untuk kita orang tua mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak kita, sebagai bagian dari Genetic psycologi artefak (pengasuhan berbasis lokal, menurut asal negara dan budaya yang berkembang. Budaya menjadi sebuah identitas, referensi moral dan etika. Karena dari situ, anak belajar adat dan budaya.

“Unggule bangsa iku katitik saka basane.
Yen basane katileb karo basa bangsa liyane,
ateges bangsa kuwi kasoran karo bangsa kang dienggo basane.”
***
Artinya bahasa menjadi penting membentuk karakter seseorang.


e.      Aspek Karakter
Berhubungan dengan tabiat, watak, sifat, batin, maupun budi pekerti. Tradisi Jawa sangat menjunjung tinggi tabiat, watak, maupun budi pekerti. Dilihat dari bahasa Jawa, yang ada ngoko, kromo, dan kromo alus, membuat kita belajar bagaimana etika berinteraksi dengan teman, bagaimana berinteraksi dengan orang yang lebih tua, sehingga budi pekerti benar-benar bisa ditanamkan.

Mengapa stimulasi penting dilakukan?
Stimulasi penting diberikan bahkan sejak awal masa perkembangan supaya menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya membentuk pola perilaku, kemampuan, serta kepribadian. Untuk optimalisasi selanjutnya, perlu pengembangan diri yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan.
Selain mendapatkan stimulasi di sekolah dan lingkungan luarnya, orangtua kalau bisa sih juga melakukan stimulasi walaupun itu secara sederhana di rumah. Tetapi jika menginginkan program-program stimulasi yang lebih terarah dan terkonsep antara anak dan orangtua, maka Omah Perden dapat menjadi referensi untuk program ini. Selain tempatnya nyaman, dengan fasilitas stimulasi yang lengkap, program stimulasinya juga terkonsep. Beberapa program-program stimulasi di Omah Perden dilakukan dengan:
1.       Permainan yang ekslporatif dan edukatif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
2.       Memperlihatkan piramida belajar berdasarkan proses esnsori.
3.       Memperlihatkan perkembangan kapasitas fungsi emosi.
4.       Mengembangkan relasi dengan anak.
5.       Memperhatikan perbedaan individu
6.       Berbasis budaya Nusantara, khususnya Jawa
7.   Kegiatan dilakukan bersama dengan orang tua, dengan tujuan agar orang tua terlibat dan selanjutnya dapat melakukan stimulasi secara mandiri pada anak.
8.       Diawali dan diakhirir diskusi dengan para orangtua, serta refleksi di setiap akhir sesi.
9.       Dukungan oleh para ahli : Psikolog, Dokter, Terapis Okupasi, pendidik


Pola pengasuhan berbasis tradisi adalah satu bentuk usaha kita untuk tetap menerapkan Genetic Psycologi artefak. Hal ini bertujuan agar anak-anak kita belajar dariadat dan budaya tempat kelahirannya, sebagai sebuah identitas, referensi moral dan etika.

"Selamat dan sukses untuk Omah Perden. Semoga bisa bermanfaat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa."






Komentar

  1. Kalau saya prinsipnya ambil mana yang baik. Jadi memang gak kaku harus tradisi atau internasional. Dipilah-pilah dan diambil mana yang cocok buat kita praktekan :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melirik “ New Concept Fashion” di Ada Buti Store.

Tips liburan seru dan ceria bareng balita