Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.

Gambar
Omah Perden. "Perden lan Pangguloewenthah Adhedasar Tatanan Rasa."




Sejenak kening saya berkerut membaca undangan untuk Blogger di acara soft opening “Omah Perden”. Disana ada beberapa tema seminar yang bisa diikuti oleh blogger. Boleh memilih salah satu atau mengikuti semua seminarnya. Bahkan ada juga masa uji coba selama kurun waktu beberapa minggu.
Menimbang waktu , akhirnya saya memilih mengikuti seminar yang bertema : “Pengasuhan Berbasis Tradisi”.  Oke. Dari sekian tema yang dijadwalkan selama dua hari. Disamping saya bisa di waktu tersebut, temanya juga menarik perhatian. Ada beberapa pertanyaan yag aku pikirkan, “ Sejauh mana nilai tradisi bisa dipertahankan di era sekarang ini? Masih relevan kah? . Jika iya, nilai yang seperti apa yang bisa diajarkan kepada anak-anak jaman sekarang?”
Sekarang ini memang tradisi sudah agak ditinggalkan, karena bergeser dengan pola-pola pengasuhan yang dianggap lebih modern dan lebih dipandang bertaraf international, katanya. Selama in…

Suatu hari aku pernah membaca ini, dan Aku suka.

Suatu hari aku pernah membaca ini, dan Aku suka.
Nggak perlu banyak deskripsi. Nggak perlu banyak menjelaskan tentang ini. Karena terkadang kita menyukai sesuatu bahkan kita nggak tahu alasan yang sebenarnya apa. Seperti larik-larik puisi ini, yang mungkin terlalu legit untuk dibayangkan, tetapi terlalu absurd untuk diwujudkan.
Here,  Sebuah larik puisi dari Journalkinchan.

---


Suatu Saat Kita Akan ke India, Sayang.
Suatu saat, kita akan berjalan-jalan ke India, sayang. berpakaian sederhana, dengan kacamata hitam dan berkalung kamera. berlari di antara pasar dan kuil-kuil, dimana tanganmu menggandengku erat.
Kita tidak pergi ke Taj Mahal. kita mencari ketenangan di antara ashram, mungkin di Ladakh atau Agra. bermeditasi dalam sunyi selama satu atau dua minggu untuk kemudian berpindah lagi. kemudian aku sibuk menertawakanmu saat mencicip asamnya yogurt di dalam saus canai, saat kita pelesir di Kolkata. Kemudian, dengan bis kaleng yang panas kita menyusur jalanan berpuluh jam untuk mencapai Kash…