Ngeblog, antara idealisme dan tuntuan sebuah profesi.

NGEBLOG,  
Antara idealisme dan tuntutan sebuah profesi.
-sebuah renungan untuk diriku sendiri

Kalau banyak orang bilang menjadi penulis itu gampang, menurutku itu salah. Semua yang berhubungan dengan sebuah karya seni tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Mereka tentu punya idealisme yang tinggi untuk karya yang akan dilahirkannya.

Saya menyebut seorang penulis dan blogger adalah bagian dari seniman. Sama-sama berkarya untuk melahirkan sebuah tulisan yang bersumber dari pemikirannya sendiri, walaupun itu dipengaruhi oleh perjalanan hidup masing-masing, pengalaman dan juga kreativitas yang dimiliki. Yang jelas, penulis  punya gaya otentik yang nggak bisa sama dengan penulis lain.

Baiklah. Saya ingin menulis tentang aktivitas ngeblog, antara idealisme dan tuntutan. Idealisme disini saya artikan dengan kita yang menulis blog dengan niatan dan tujuan benar-benar untuk berbagi apa yang kita miliki. Pengalaman, cerita yang mungkin menginspirasi, tip-tip yang bisa diterapkan oleh orang lain yang kebetulan memiliki masalah yang sama dengan kita.

Tetapi terkadang, di satu sisi seorang blogger dihadapkan pada sebuah tuntutan yang nggak gampang. Tulisannya bukan idealis lagi sebagai penulis yang ingin sharing, akan tetapi lebih ke karena sebuah kepentingan.

Saya nggak menyebut saya penulis atau blogger sejati, yang setiap hari bisa nulis ribuan kata dan  paragraf.  Saya hanya sesekali saja menjadi penulis, dan menulis jika saya ingin. Terkadang saya merasa jenuh dengan menulis, karena tulisan yang saya buat, tidak sesuai dengan idealisme saya. Pikir saya saat itu, tulisan saya dominan hanya untuk kepentingan tertentu dan hanya untuk memenuhi tuntuan siapa yang mensponsori saya. Saya sulit memberikan narasi yang jujur berdasarkan nilai yang proporsional, sesuai apa yang saya lihat, saya rasakan dan saya tahu.

Dari situ semua berlanjut. Saya stuck nggak nulis sama sekali. Alasannya simple. Pertama, karena tulisan saya tidak sesuai dengan idealisme saya. Saya gelisah saat itu. Yang membuat saya gelisah adalah saat saya ngepost tulisan, saya nggak jujur pada diri sendiri. Saya pakai produk A, tetapi saya menulis tentang campaign produk B, dan mengkritisi produk A.

Alasan kedua kenapa saya ingin berhenti menulis adalah karena saya merasa tidak konsisten dengan apa yang saya tulis. Banyak hal yang saya tulis, untuk menganjurkan ini itu ke orang lain, tetapi saya sendiri tidak melakukannya. Intinya saya tidak  konsisten melakukan apa yang saya anjurkan ke orang lain, walaupun hanya sebagain poin saja yang benar-benar saya lakukan. Tetapi saya merasa nggak fear kepada orang lain yang membaca tulisan saya. Masak saya menganjurkan, tetapi saya melanggar atau saya tidak melakukan juga. Kan lucu...

Ketiga, saya ingin jujur pada diri sendiri. bahwa saya bukan manusia setengah dewa yang hampir sempurna. Tentang kebiasaan atau perilaku saya yang mungkin pada saat tertentu, saya benar-benar tidak bisa melakukan seperti apa yang saya tulis. karena yang saya tulis terlalu idealis untuk seorang manusia, mungkin.  jujur, saya belum sepenuhnya melakukan apa yang selalu saya koar-koarkan melalui tulisan saya, yang kebetulan dimuat di media sosial. Banyak yang menyangka, penulisnya pasti sudah menerapkan apa yang ditulisnya. pahadal, belum tentu. 

Sejak itu saya nggak nulis buku, saya nggak nulis di media, saya juga nggak ngeblog ( sampi blog saya lumutan) , saya nggak nulis status di facebook, saya juga nggak upload foto atau apapun di media. Apalagi ngetweet.

Waktu itu yang ada di pikiran saya adalah, saya mau berhenti menulis.
Oke. Saya benar-benar berhenti menulis.

Tapi ternyata lama tidak menulis pun membuatku gelisah. Rasanya seperti ada yang kurang dalam hidup saya. Rasanya seperti ada gumpalan darah kotor yang menyumpal aliran darah. Ada perasaan gimana yaaa, nggak los gitu, nggak tenang.

Seperti sebuah racun di dalam tubuh yang seharusnya di detoksifikasi (dikeluarkan), ini sama sekali enggak. Numpuk-numpuk dalam pikiran, dan ini menjadi sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Menjadi sebuah emosional yang nggak pada tempatnya.

Lalu pada suatu hari saya buka lagi blog saya. Saya lihat lagi buku-buku saya yang telah terbit. Buku kolaborasi dengan teman penulis lain, buku saya pribadi yang benar-benar saya tulis dari pemikiran dan pengalaman saya. Saya kembali bahagia dengan melihat mereka semua.

Oke. Baiklah. Saya membuat kesepakatan dengan diri saya sendiri. Saya mau nulis lagi.
Saya hanya ingin bahagia. Kalau dengan menulis saya bisa bahagia, kenapa enggak?. Itu sederhana, dan saya bisa lakukan itu. Mungkin nggak usah saya pikirkan antara idealisme dan tuntutan. Semua penulis pasti idealis. Tetapi juga nggak bisa lari dari  tuntutan akan sebuah pekerjaan dan tanggungjawab sebagai penulis atau blogger. Yang penting mengikuti rule yang ada, kata temen-temen blogger.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan salut saya untuk semua penulis dan blogger di seluruh Indonesia dan dunia. Kalian semua hebat. Menulislah dengan hati, dan bekerjalah dengan profesional.

Dan hari ini saya mau jujur pada diri saya sendiri. Saya rindu bisa menulis lagi. Saya rindu bisa sharing pengalaman ke orang lain. Saya juga rindu menjadi diri sendiri dengan tulisan saya.

Dokumen pribadi.
"Ternyata melihat hasil karya sendiri, itu sudah membuat kita bahagia."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melirik “ New Concept Fashion” di Ada Buti Store.

Tips liburan seru dan ceria bareng balita

Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.