Sukses menyapih dengan sedikit drama dan pergolakan..... Gimana caranya?

 

     Weaning with love, atau dalam bahasa indonesia berarti menyapih dengan cinta. Saya setuju dengan kalimat ini. Secara umum memang menyapih adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para ibu terhadap anaknya yang  rata-rata telah berusia 2 tahun atau lebih. Akan tetapi,  menyapih nggak semudah yang  dibayangkan. Banyak drama yang terjadi saat proses menyapih. Nggak anak, nggak juga ibunya. Keduanya sama saja  baper, karena ini memang masalah perasaan. Tetapi perlu saya tegaskan di sini bahwa seharusnya proses menyapih bukanlah proses pemisahan antara ibu dan anak, atau proses perampasan hak anak untuk mendapatkan kasih sayang dari ibunya, dalam bentuk menyusu. Tetapi lebih ke transformasi kasih sayang ibu dalam aktivitas dan bentuk lain dari sebuah kasih sayang.
      Selain itu, proses menyapih ini sebagai tahap baru bagi ibu dan si kecil untuk bisa berkasih sayang dengan cara yang berbeda dari biasanya. Kita semua tahu betapa besarnya manfaat menyusui bagi si ibu dan si kecil. Di kesempatan lalu sudah saya bahas tentang besarnya manfaat ASI dan proses menyusui bagi si kecil maupun si ibu. Bagi yang belum bisa baca : Mengapa menyusui penting?
     Tetapi seiring dengan perkembangan si kecil, aktivitas yang semakin meningkat, kebutuhan kalorinya pun tentu ikut meningkat. Ditambah lagi, alat bantu untuk mengunyah makanan  juga sudah siap, yaitu gigi dan alat pencernaan yang sudah matang. Beberapa hal ini adalah alasan mengapa sebaiknya kita mulai menyapih si kecil saat berusia 2 tahun. Tetapi bagi Mama yang masih kesulitan menyapih si kecil yang sudah berusia 2 tahun lebih, nggak perlu khawatir. Terus saja berusaha, lakukan pelan-pelan tanpa perlu “menyakiti”  si kecil.
      Menurut WHO dan UNICEF di Geneva tahun 2001, bahwa tidak ada keharusan anak disapih dalam 2 tahun. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, bahwa ASI masih boleh diberikan sampai usia 2 tahun karena masih mengandung 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, 60% vitamin C.
Jadi itu point- point penting sebelum menuju ke proses penyapihan ya, Ma. Sekarang saya mau berbagi pengalaman tentang aktivitas penyapihan anak kedua saya,Binar.  Sebelumnya saya informasikan dulu bahwa saya memiliki 2 anak dengan kelahiran jarak dekat. Selisih kakak-adik kira-kira 1,5 tahun (jadi saya hamil anak kedua, saat anak pertama berusia 10 bulan). Jadi kurang lebih saya menyusui selama  3,5 tahun tidak pernah berhenti. J
      Nah, di usia Binar yang sudah menjelang 2 tahun saat itu, saya memutuskan untuk mencoba menyapihnya 2 bulan sebelum usianya 2 tahun (22 bulan). Mengapa belum 2 tahun saya berusaha menyapihnya? Karena saya mulai merasa tulang belakang saya sakit setiap habis menyusui. Awalnya  piki saya, mungkin karena kecapekan saja. Tetapi rasa sakit itu berulang setiap hari setiap pagi, karena semalaman menyusui Binar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, dokter mulai menyarankan untuk mencoba menyapih Binar. Baiklah, akhirnya saya mencoba saran dari dokter.

Pergulatan saat menjalani proses menyapih.

Alih-alih langsung sukses, perlu beberapa tahap sebenarnya untuk bisa sukses  menyapih anak.  Beberapa kali saya mencoba menyapihnya,tetapi saya selalu gagal. Binar tetap merengek minta nenen. Sudah menerapkan tips yang dituliskan di banyak blog,  tetapi masih saja gagal. Bahkan saya pernah juga menggendongnya sampai 1,5 jam untuk menidurkannya, tetapi dia tetap merengek minta nenen.Huft...! Jadilah saya ikut terharu, dan tidak tega melihatnya. Kalau sudah seperti itu, saya embali menyusui Binar. Dan ini terjadi berkali-kali. Dan saya pun menganggap semua ini sebuah proses. Saya tetap berusaha dengan sabar.

       Waktu pun berjalan. Nggak terasa usia Binarpun bertambah hingga 2 tahun 1 bulan. Rasanya kok semakin pinter juga si Binar nyari alasan buat tetep nenen ke maminya ya?. Belum lagi kalau binar lagi  sakit. Sudah bisa dipastikan semalaman sering nenen. Karena pasti dengan nenen, dia nggak begitu rewel dan bisa tidur pulas walaupun sebentar-sebentar.

Baiklah. Saya stuck disini. 
Sementara ngalir dulu aja deh.
Tetapi kan anak memang harus disapih...

     Ada beberapa alasan mengapa anak harus disapih, antara lain : agar lebih mendapat asupan makanan yang dapat  mencukupi kebutuhan gizinya. Jadi kalau dia berhenti menyusu, si anak akan mencari sumber makanan lain untuk mencukupi kebutuhan tenaganya, misalnya nasi atau camilan. Selain itu saat anak sudah tumbuh gigi, artinya dia sudah siap untuk memasukkan sumber makanan lain yang lebih kompleks dan bahkan dia harusm engunyahnya untuk bisa mendapatkan energi itu.  Alasan ketiga adalah agar anak lebih mandiri.  Ini faktor penting untukk tumbuh kembangnya. Bagaimana dia bisa mandiri jika dia masih terikat oleh zona nyaman ‘’menyusu’’ ke mamanya? Dia akan selamanya enggan belajar dan bereksplorasi saat masih terikat dengan aktivitas menyusu.

Lalu apa yang membuat  saya mengerti,
kenapa saya selalu gagal dalam menyapih?

       Setelah saya cari-cari sebabnya, ternyata penyebabnya 80% adalah diri saya sendiri, maminya. –saya belum yakin kepada diri sendiri bahwa saya akan dan bisa menyapih Binar. Ini alasan klasik emak-emak, bahwa saya masih merasa berat meninggalkan aktiiviitas favorit saya untuk memanjakan Binar, melalui menyusui. Iya dong? Kasih sayang yang maksimal bisa tersalurkan melalui aktivitas menyusui kan? Kalau aktivitas ini berakhir, rasanya kok gimana gitu..... (alesyan yaaa....)
       Jadi setelah tahu bahwa kendalanya ada pada ketidakyakinan saya bahwa harus dimulai sekarang untuk menyapih. Dan bahwa saya bisa melalui tahap ini dengan baik, dan bisa menggantikan  kasih sayang  yang dulu dengan bentuk yang lain. Saya mulai meyakinkan diri bahwa semua proses ini harus dihadapai dengan sabar. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan bahwa :
1.  Menyapih adalah sebuah proses. Bukan target.
Sikapi ini sebagai suatu proses yang membutuhkan kesabaran dan strategi. Pinter-pinternya mama mengambil sikap dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Jangan sampai ada yang tersakiti, baik si kecil atau ibunya.
2.  Menyapih pun adalah sebuah kasih sayang.
Jangan pernah beranggapan bahwa dengan menyapih kasih sayang seorang ibu berkurang. Justru inilah kesempatan kita untuk memaksimalkan kasih sayang dalam bentuk lain. Misalnya untuk mengalihkan perhatian agar anak tidak terfokus pada menyusu, kita bisa membelikan mainan yang edukatif, bisa merangsang tumbuh kembang si kecil.
3.  Peran ayah atau keluarga sangat membantu suksesnya menyapih.
Hal diatas adalah prinsip yang saya pegang, hingga saya berhasil  menyapih Binar dengan sukses dan berakhir dengan ‘baik-baik saja’ mama dan anaknya. Semuanya terlihat enjoy dan bahagia. Nggak ada rengekan, nggak ada rasa tertekan.

               
                 Selamat menyapih , Mom....







Komentar

  1. Sepupuku sampe ndak bisa kerja lho mbak. Thanks for sharing btw.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Sama2. Yang penting yakin dulu, kalau keduanya memang sudah siap untuk penyapihan.. Hehe... Kalau mamanya blm siap lahir batin, hampir pasti penyapihan akan gagal... :)

      Hapus
    2. Iyaa... Sama2. Yang penting yakin dulu, kalau keduanya memang sudah siap untuk penyapihan.. Hehe... Kalau mamanya blm siap lahir batin, hampir pasti penyapihan akan gagal... :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melirik “ New Concept Fashion” di Ada Buti Store.

Tips liburan seru dan ceria bareng balita

Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.