Workshop Mendongeng untuk 1000 guru bersama PUAN dan Kak Awam

Siapa yang pengen belajar mendongeng? 
Kak Awamlah Ahlinya!

Workshop Mendongeng untuk 1000 guru PAUD bersama PUAN dan Kak Awam
Foto: Mak Irul

Halo Moms,

Siapa sih yang nggak pengen jago mendongeng? Apalagi masih punya balita yang tentunya sangat seneng  jika didongengin mamanya. Selain bisa melatih daya imajinasi mereka, medongeng  juga bisa dipaka untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak, misalnya tentang moral, budi pekerti, tentang ilmu pengetahuan, bahkan hitungan matematika dan sejarahpun bisa dilakukan dengan cara mendongeng.
Pekan  lalu, saya  beberapa kali mencoba mendongeng kepada anak-anak tentang persahabatan kancil dan sapi. Tetapi setelah tiga empat kalimat lancar, saya mulai kesulitan mencari bahan cerita di kalimat selanjutnya. Sempat juga agak terdiam lama karena mencari kata-kata untuk menyambung kalimat selanjutnya. Saya juga kesulitan mengemas dogeng saya agar terdengar menarik bagi anak-anak. “Huft, ternyata mendongeng tidak mudah ya...”
Nah, beruntung sekali pada Sabtu tanggal 29 Nopember kemarin, saya bersama beberapa teman blogger lainnya  berkesempatan untuk mengikuti workshop mendongeng bersama Kak Awam di acara yang diselenggarakan oleh PUAN (Perempuan Amanat Nasional). Kami diundang oleh mbak Astriani Karnaningrum (Koordinator acara, yang sekaligus istri dari Pak Hanafi Rais).


www.nanaditya.com
Tokoh dibalik PUAN " Perempuan Amanat  Nasional"
Foto : Mak Irul

Di acara itu juga ada Hanum Salsabila, penulisa novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang memberikan kata sambutan tentang peran bunda dalam mendidik anak-anak. Beliau bercerita bahwa saat masih kecil dahulu, beliau sering di dongengin juga oleh ayahanda, Bapak Amien Rais. Cerita-cerita tersebut  yang membawanya kini menjadi penulis terkenal dengan bukunya yang selalu best seller. Dan beliau meyakini, bahwa berkat sering didongein inilah bakat menulisnya ada.
Awal masuk ruang seminar yang bertempat di LPP itu, saya langsung kagum. Di sana sudah tersusun rapi deretan kursi-kursi yang jumlahnya ribuan. “apakah kursi –kursi ini akan terisi semuanya? Tanyaku dalam hati. Ternyata memang benar. Setengah jam sebelum acara dimulai, hampir semua kursi telah terisi. Acara ini dibuka oleh beberapa sambutan, dan juga tari saman dari anak-anak TK Budi Mulya. Mereka lucu-lucu dan nggemesin deh....
Acara ini bertajuk Pelantikan sejumlah pengurus DPW PUAN di daerah DIY. Dan yang lebih keren, inti dari acara ini adalah workshop “Puan Mengajar” 1000 guru, dengan tagline “ Membangun Karakter Anak Melalui Media Dongeng”. Jadi PUAN mengundang 1000 guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) untuk diajari mendongeng yang baik dan berkesan.
Bayangkan saja, ada kurang lebih seribu guru PAUD yang sengaja hadir saat itu. Mereka nggak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari Gunungkidul, dari Surakarta, Sukoharjo, Kulonprogo dan daerah lainnya. Dan mereka terlihat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Mereka sangat bersemangat untuk menyimak dan mengikuti acara ini tanpa meninggalkan satu sesipun dari seluruh rangkaian acara ini.


Saya dan makalah tentang "Kreatif  Dalam Mendongeng" dari  Kak Awam

Saya memberikan apresiasi untuk acara yang  PUAN selenggarakan ini.
Inilah bentuk kepedulian bangsa terhadap
peningkatan mutu pendidikan dan karakter penerus bangsa.

***


“ Workshop mendongeng bersama Kak Awam ”

       Oh ya, sebelum masuk ke materi dongeng, saya mau kasih profilnya Kak Awam dulu, ya Moms..
Jadi Kak Awam itu adalah seorang pendongeng. Beliau memiliki kemampuan menirukan berbagai jenis suara dan sangat kreatif dalam menyajikan pertunjukan dongeng. Nama lengkapnya  adalah Mochammad Awam Prakoso. Beliau  lahir di Blora Jawa Tengah pada tanggal 18 Mei 1973 dan telah menekuni dunia dongeng dan dunia anak-anak sejak tahun 1999.
Jangan tanya prestasi beliau tentang dongeng ya... Beliau ini sering mengisi di acara televisi, maupun seminar-seminar. Selain itu, Kak Awam juga membuat beberapa DVD cerita dongeng dan menulis buku tentang dongeng, yaitu : 25 Cerita Kampung Dongeng.
Kemampuan Kak Awam dalam mendongeng memang harus diacungi jempol, empat jempol malah J. Banyak ilmu yang diberikan berkaitan tentang teknik mendongeng, yang beliau sampaikan dengan sangat detail dilengkapi dengan yel-yel dan lagu-lagu untuk menarik perhatian anak. dan setelah saya ikuti workshop mendongeng ini, saya jadi ngerti, ternyata mendongeng bukan hal yang sederhana. Ternyata mendongeng itu butuh persiapan dan “bahan” yang cukup agar dongeng kita menarik, sehingga pesan yang akan disampaikan sampai kepada anak-anak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Yuk, langsung saja dibaca materi tentang “ KREATIF DALAM MENDONGENG” dari Kak Awam ya, Moms.... J Eh tapi sebelum masuk ke inti teknik mendongeng, sebaiknya tahu dulu arti cerita dan dongeng itu apa bedanya. Dengan begitu, kita akan dengan mudah menyiapkan cerita-cerita yang akan kita sajikan untuk anak-anak berdasarkan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu.

Pengertian cerita atau dongeng.
Apa itu CERITA? Cerita adalah hasil karangan yang disampaikan secara lisan ataupun tertulis berdasarkan kejadian nyata atau kejadian yang tidak nyata (Fiksi). Cerita berdasarkan kejadian nyata misalnya tentang sejarah, kisah para nabi don rasulnya, biografi seseorang, dan lain sebagainya. Sedangkan cerita fiksi (tidak nyata) , misalnya Fabel (cerita binatang), Sage (cerita petualangan), Hikayat (cerita rakyat), Legenda (asal usul), Mythe (dewa-dewi, peri, roh halus). Nah, DONGENG termasuk dalam cerita non fiksi atau tidak nyata.

    Dongeng itu adalah hasil karya berdasarkan rekayasa imajinatif (imajinasi) seseorang pendongeng atau penulis yang jalan ceritanya sederhana dan tidak benar-benar terjadi. Mendongeng sendiri, adalah kegiatan kreatif seorang guru untuk menyampaikan pesan. Karena anak-anak belumlah saatnya diberikan nasehat murni. Mereka butuh pembelajaran yang tidak menggurui. Sehingga dalam menyajika cerita, seorang guru perlu kreatif.

Setelah tahu pengertian cerita dan dongeng, kita juga perlu mempersiapkan segala sesuatu sebelum mendongeng. Apa saja persiapannya?

Kreatif dalam Membuat Naskah Cerita

 Seperti membuat kue yang lezat, kta harus pinter-pinter memilih cerita yang cocok untuk anak-anak yang akan menyaksikan/mendengarkan cerita yang akan kita tuturkan. Ada beberapa hal yang perlu kita siapkan, antara lain:
1.          Memilih atau Membuat Cerita Sesuai Dengan Usia Anak.
Jangan sampai kita salah memilih materi cerita. Materi cerita yang baik adalah materi yang pas dan cocok kita sajikan berdasarkan tingkatan usia anak-anak yang akan mendengarkan/menyaksikan dongeng.
Berikut adalah tema cerita berdasarkan tingkat usia:
§  Di bawah usia 5 tahun, anak menyukai dongeng tumbuhan, binatang atau cerita yang kita buat atas benda-benda mati yang ada di sekitar kita., Contohnya : Si Bunga yang indah, Kupu-kupu bersayap indah, Sepasang sepatu yang terus bersahabat, dsb.
§  Usia 5 tahun. Pada usia ini anak-anak selain masih menyukai cerita binatang, juga cerita tokoh heroik dan cerita tentang kecerdikan. Dan dikemas secara jenaka dan segar.  Contohnya Kelinci yang patuh, Kura-kura cerdik, Balas budi si tikus kecil, Belalang yang malas, Petualangon Pangeron Penyelamat Bumi, dsb.
§  Pada usia 9-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan, sejarah atau kisah-kisah nabi dan para sahabat nabi.
2.          Menentukan Durasi Cerita.
Daya konsentrasi manusia pada umumnya adalah 7 menit. Apalagi anak-anak. Sehingga kita sangat perlu mempertimbangkan durasi ketika bercerita.
§  di bawah usia 5 tahun, durasi hingga 5 menit
§  Usia 4 - 8 tahun, durasi hingga 7 -15 menit
§  Usia 8 - 2 tahun, durasi hingga 20 menit.
Namun apabila kita dapat mengemas cerita sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah pertunjukan yang menarik, maka tidak menutup kemungkinan anak-anak akan tetap fokus, walaupun sajian cerita yang kita sajikan lebih dari 60 menit sekalipun. Untuk itu, para guru sedapat mungkin untuk mengemas pertunjukan secara baik, interaktif dan segar, serta melibatkan anak-anak dalam cerita.
3.          Menentukan Cerita Berdasarkan Tema Acara.
Tentu saja satu cerita tidak pas kalau kita bawakan di segala macam suasana. Sesuaikan cerita dengan situasi yang sedang terjadi. Misalnya Hari Ulang Tahun Salah satu anak, Hari Besar Islam, Hari Besar Nasional, dan lain sebagainya. Hal ini sekaligus memberikan pemahaman kepada anak untuk mendalami dan situasi yang sedang terjadi.
4.          Berlatih dengan sungguh-sungguh.
Banyak hal yang harus diperhatikon oleh seorang guru sebelum memulai aksinya. Berikut hal-hal yang harus dilatih oleh seorang pencerita secara rutin agar memiliki kemampuan yang baik:
§   Olah Vocal: Vokal sangat perlu dilatih secara rutin. Baik melatih untuk penyampaian narasi ataupun dialog. Ketika kita sudah piawai membedakan mana vocal untuk narasi dan mana dialog tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, maka anak-anak akan mudah membedakan dan secara Iangsung dapat menikmati pertunjukan. Seorang penutur cerita yang baik setidaknya memiliki minimal 3 karakter suara yang berbeda. Lebih jauh lagi penutur sebisa mungkin melatih menggunakan ilustrasi-ilustrasi suara seperti suara angin, hujan,kereta, pesawat, suara binatang, dll.
§   Olah Ekspresi. Yang dimaksud ekspresi pada tulisan ini adalah mimik muka. Sebisa mungkin seorang pencerita berlatih membentuk sedemikian rupa mimik agar anak-anak dapat ikut terbawa suasana.
§   Bagaimana mimik tersenyum, senang, tertawa, sedih, menangis, marah, kesal, dan lain sebagainya. Bila kita tampil mendongeng tanpa membentuk sedemikian rupa mimik kita, maka jalannya cerita akan terasa kering tanpa kekuatan.
§   Olah Tubuh : Ketika melakukan pemeranan tokob yang ada dalam cerita, maka perlulah kita melakukan peragaan. Dengan demikian maka pertunjukan  dongeng akan semakin hidup. Visualisasi gerak ini sangat diperlukan bagi penutur yang tidak menggunakan alat peraga.
§   OIah Media. Media yang dimaksudkan di sini adalah alat peraga yang oleh seorang penutur digunakan untuk bercerita. Seperti boneka, buku, papan panel, wayang, dll. Bila memutuskan untuk menggunakan alat peraga, maka sangat dibutuhkan latihan agar tangan kita tidak kaku saat memainkan peraga tersebut.
§   OIah komunikasi dan bahasa : Berlatihlah untuk memilih bahasa dan komunikasi yang mudah dipahami oleh anak-anak. Jangan sampai anak-anak bingung dengan diskripsi yang sulit dipahami.
§   Pendukung lainnya : Adakalanya pencerita menggunakan alat musik sebagai pendukung cerita. Bila memang demikian, maka sangatlah perlu dipersiapkan yang matang. Lagu atau ilustrasi dibuatlah terlebih dahulu dan melakukan latihan yang cukup agar saat tampil bisa terjadi kombinasi yang baik dan seimbang.


‘Ciptakan suasana akrab sebelum bercerita”

Sebelum memulai bertutur sangatlah perlu seorang pencerita membuat magnet agar anak-anak begitu lengket. Berilah candaan-candaan yang membuat mereka tertawa bahagia.
Berikut contoh-contoh:
1.       Tebak-tebakan yang segar dan menghibur
§  Bertanyalah “Siapa yang suka main ke kebun binatang?” (anak-anak akan berebut tunjuk tangan dan menjawab) “sayaaaaa”. Lalu teruskanlah, siapa yang tahu hewan apa yang ada di kebun binatang?” (anak-anak akan berebut tunjuk tangan dan mengucapkan “saya”
§      Bertanyalah “Siapa yang sudah pintar mandi sendiri?” “Sipa yang sudah pintar tidur sendiri?” “Siapa yang tidurnya berdiri?” dan lain sebagainya.
§     Nyanyian Lagu-lagu ringan
Lagu-lagu yang sudah akrab di telinga anak-anak dapat kita gubah liriknya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Anak-anak akan lebih senang dengan lagu-lagu yang pada ujungnya mereka dapat menjawab pertanyaan. Sebagai contoh lagu di sini senang di sana senang yang bisa dirubah:
§  “Di siniii senaang, di sanaaa senaang... siapa mau dengar cerita?” anak-anakpun akan menjawab “Saya. Duduk yang rapi, Mulut dikunci, tak ada suara Iagi………. dan lain sebagainya.
2.       Ajaklah anak-anak untuk melatih kekompakan
Kekompakan yang dimaksud di sini adalah untuk mengkondisikan anak-anak agar tetap fokus pada cerita yang kita bawakan.


‘Menutup cerita’

Ada teknik membuka cerita, ada pula teknik menutup cerita atau closing. Tutuplah cerita juga dengan mengesankan agar anak-anak terus meminta pada hari-hari berikutnya. Sehingga kegiatan bercerita akan rnenjadi materi keseharian untuk anak-anak. Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menutup cerita.
1. Lakukan tanya jawab tentang tokoh baik yang harus ditiru dan tokoh jahat yang harus ditinggalkan.
2. Lantunkan lagu yang sudah populer dengan menggubah liriknya dan disesuaikan dengan tema cerita
3. Jangan berlalu dari hadapan anak-anak ketika mereka masih berkomentar dan bertanya. Jawablah dengan kasih sayang yang tulus.


                                                     "Penutup"

“ Janganlah berharap untuk berhasil menyajikan cerita dengan baik di hadapan anak-anak didik kita apabila kita tidak kreatif dalam memilih naskah cerita, tidak kreatif dalam mengolah naskah cerita dan tidak kreatif dalam menyajikan cerita. Jangan pula berharap untuk berhasil menyiapkan cerita dengan sukses apabila kita tidak total dan masih malu-malu. Dan jangan pula berharap untuk berhasil menyajikan cerita dengan hebat, apabila kita tidak sering-sering mencoba untuk terus tampil. INGATLAH, bahwa bercerita itu salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Untuk itu, SELAMAT UNTUK BERBAGI CERITA UNTUK ANAK-ANAK DIDIK KITA, DAN SUKSES MENYERTAI KITA SEMUA"" --Kak Awam (www.kampungdongeng.com)

         Nah, Moms...sudah tahu kan teknik mendongeng yang baik agar nggak monoton, menarik dan tetap berkesan penuh makna? Siap-siap dipraktekkin aja ya...harapannya sih, setelah baca materi dari kak Awam diatas, saya pribadi dan Moms semua jadi lebih bagus lagi deh teknik mendongengnya, baik secara kuantitas dan kualitas...Amin,


"Ibarat makanan tak hanya bisa mengenyangkan, tetapi juga harus menyehatkan. Seperti dongeng juga tidak hanya menyenangkan, tetapi juga harus mengandung kekuatan pesan. "
by Kak Awam Prakoso

Selamat mendongeng yaa, Moms....
Nana Aditya






Komentar

  1. semangat yuk, biar anak-anak kita makin terbuka pikirannya, aamiin

    salam
    gabrilla

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melirik “ New Concept Fashion” di Ada Buti Store.

Tips liburan seru dan ceria bareng balita

Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.