Jujur, Aku Suka--Novel kamu!


Seperti halnya mengejar kereta yang dulu pernah meninggalkanku…
Kini nyawaku sedang mati-matian mengejar harapan yang dulu pernah kutinggalkan…
.............................................
.............................................

(Kalimat selanjutnya masih di otak, belum bisa dituliskan)



Sebenarnya, banyak sekali yang ingin kutulis, hanya saja aku tak bisa menuliskan semuanya dengan baik. Ribuan huruf  sudah mengambang dan beterbangan di pikiran, tetapi sungguh naas, mereka kebingungan mendapatkan pasangan-pasangannya, hingga tak satupun kata yang dapat tersusun dengan baik. Sumpah! aku benci dengan keadaan semacam ini.

Seperti yang sudah semua orang tahu, aku hanya bisa bertahan menulis dua kalimat pembuka. Biasanya, kalimat berikutnya akan kacau dan sama sekali tidak enak dibaca. Jika sudah begitu, maka saat aku menulis lagi, tak lama kemudian aku pasti menghapusnya. Menulis kembali, tetapi menggantinya dengan kalimat lain. Dan akhirnya aku tidak jadi menulis. 

Inilah jeleknya aku. 
Sekali lagi, semua orang sudah tahu L 

Sampai pada suatu hari aku meminjam novel dari temanku. Novel ini yang kemudian sangat aku sukai karena segala tentangnya bagus. Oh ya, temanku ini adalah penulis senior yang kebetulan mau berteman denganku. Kami dulu bertemu saat aku minta tandatangan sekalian cap tiga jarinya dia untuk buku best sellernya. Aku hanya satu-satunya orang yang meminta cap tiga jari, sehingga dia berpikir bahwa mungkin akan lucu juga berteman dengan orang aneh macam aku, jadi dia rela berteman denganku. Ternyata temanku yang penulis ini, berteman dengan seorang penulis novel terkenal. dia membantuku belajar menulis dengan meminjamkan novelnya temannya untuk kupelajari. Sekarang, aku lagi hobi banget baca novelnya penulis novel terkenal itu. Bingung kan ya? Memang begitu aku menjelaskannya kepadamu :D

Novel ini—sungguh, cakep sekalii. Perfect. Nilainya 99,999 dalam skala 100. Dari puluhan novel yang ku baca, rating pertama sekarang diduduki novel ini. Sedangkan rating pertama yang kemarin sudah kupersilakan geser ke rating ke dua. Saking senengnya baca novel karya si penulis terkenal itu, aku sampai-sampai pengen banget ngomong jujur ke penulisnya.

Dear, si penulis novel terkenal...
Jujur. Aku suka--Novel kamu.

Aku berambisi ingin membaca semua karyamu. Pernah aku harus bolos kerja, hanya untuk mendapatkan bukumu yang super langka di toko buku di kotaku. Sampi fakta terbaru yang belakangan kusadari adalah bahwa bukumu ada dimanapun tempat transitku. Di laci meja kerjaku, di laci kamarku, di tas ranselku, di meja makan belakang rumah, di rak buku ruang tamu. Sampai-sampai di lemari kecil dekat dapur, tempat aku meletakkan kue-kue kesukaanku, bukumu juga tersimpan disana. Aku menggilai semua karyamu.

Yang ini mungkin hanya aku yang tahu. Aku selalu melihat di bagian halaman depannya,hanya untuk mengecek novelmu yang ini sudah cetakan ke berapa ya?. Dan aku hanya senyum-senyum saja kalau ternyata novel yang kubaca ini sudah lebih dari cetakan ke-empat.

Aku juga membaca tiap kata di bukumu dengan seksama, seperti tak pernah mau melewatkan tiap huruf yang tercetak di di tiap lembarnya. Sampai-sampai aku hafal penerbit mana saja dan siapa editor naskahmu. Dan aku selalu tahu, di akhir kata pengantar dari penulis, pasti kau sisipkan kata fiksiku, untukmu. Aku sukaaa.


Kamu tahu mengapa bukumu selalu sempurna bagiku?. Nggak tahu ya, menurutku bahasa di dalamnya mengena di perasaanku. Kamu selalu berhasil membuat rangkaian kata-kata menjadi seperti pemandangan indah yang selalu membuat mataku ingin terus melalui perjalanan cerita yang kau tulis. Dalam setiap karyamu, tak pernah ada satupun kekurangan yang kutemukan. Kadang juga, ada sepenggal cerita dalam novelmu yang sama persis seperti apa yang kurasakan saat itu. Kamu, seperti mewawancarai aku dulu sebelum akhirnya menuliskan cerita itu di novelmu. *Agak GR*

Jujur lagi. Aku ngiri sama kamu. Aku sampai nggak habis pikir, bagaimana kamu membuat benda berisi tulisan yang sangat perfect ini?. Heran juga sih, apakah jalinan otak dan saraf kita berbeda? Apakah kamu memiliki lebih banyak, dan aku lebih sedikit? Atau kamu memiliki kabel saraf dan volume otak lebih besar dibandingkan aku? Yang jelas aku pengagum beratmu. Sampai-sampai ada sesuatu yang kurang ketika seharian aku belum menyentuh bukumu. Betapa kau luarbiasa bagiku.

Satu hal akan kukatakan jika suatu hari aku diberi kesempatan bertemu denganmu, aku ingin mengatakan ini :
" Hai...Kamu!kemarin aku menyukai novelmu, dan sekarang sudah mulai mencintai semua karyamu. Aku sungguh mencintai karyamu walaupun kamu tidak tahu. Terimakasih sudah membuat hari-hariku nyaman bersama novel-novelmu." 

Sepertinya tulisan ini cukup sampai di sini saja. Terlalu banyak yang kutulis, akan terlalu banyak rahasia perasaanku yang terbongkar ....

Dan satu hal yang harus kalian ketahui, bahwa aku telah melakukan kesalahan... seharusnya aku menulis soal-soal, bukan menulis tentang sebuah curhat seperti ini (T.T)


Fiksiku, untukmu.
Senandung Kinara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melirik “ New Concept Fashion” di Ada Buti Store.

Tips liburan seru dan ceria bareng balita

Pola Asuh berbasis Tradisi, Mengapa Tidak? by Omah Perden.