Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Untukmu, yang aku selalu mencintaimu

Memo : 14 Maret 2013

Untukmu,  yang aku selalu mencintaimu apapun dan siapapun kamu
Terimakasih .... Untukmu, yang selalu menjaga hati dan pikiran hanya untukku, walalupun aku sangat tahu.... banyak yang mengagumimu, dan mungkin berharap memilikimu...
Untukmu, yang selamanya akan memanggilku " sayangku",  bahkan hingga nanti, saat anak-anakku memakai panggilan itu untuk memanggilku....
Untukmu,  yang selalu memelukku erat saat rapuhku, atau saat tangisku meledak-ledak,  yang entah karena apa, kadang kamu lebih tahu penyebabnya dibandingkan aku sendiri_
Terimakasih, untuk 3 tahun yang berlalu tanpa jeda, hingga kita nyaris tak pernah berhenti melangkah....
Tingkyu for everything.... Hidupku akan hidup jika bersamamu....

*Fire...!Fire....!* From: Melman @Madagascar

Kenapa kita bertemu?

Kenapa kita bertemu?
Karena kau membawa sejumlah kelebihan yang akan melengkapi banyaknya kekuranganku. 
Sejak pertemuan itu, Aku tak pernah lagi menangis di sudut kamar yang gelap, sambil mendengarkan lagu sendu yang malah membuat hatiku semakin hancur dan lebur. Tak pernah lagi menuliskan baris-baris kesedihan, ketakutan dan kekecewaan tentang apapun. Kadang baris-baris itu masih ada,tapi itu hanya sesaat. Seperti setitik embun yang akan segera lenyap saat mentari datang.
Kau membawaku ke sebuah cerita yang tokohnya hanya ada aku dan kau di sana, bukan orang lain.
Karena kau yang selalu disini, saat semua hal menghilang dari hidupku. Dan Aku menjadi seseorang yang tak pernah sendiri.
Kenapa kita bertemu? Karena menurut Tuhan, kau berarti untuk hidupku. Dunia menjadi semakin luas, tidak sesempit dapur dan ruang kerjaku. Mimpiku yang dulu samar menjadi kian kentara. Aku bisa menjadi perempuan pemimpi yang selalu ingin mewujudkan mimpi . Lagi, dan lagi. 
Kau lihat bukan? waktuku menjadi seakan b…

Ketika Pelukanmu Adalah hidupku.

Aku ingin selalu dipelukmu. Rasa getir kadang tak  terelakkan, saat  disini, saat  sendiri. Menjalani  hari yang kadang menyakitkan, dan tak sesuai harapan. Beban yang tertanam di hati yang ternyata tak terhitung banyaknya.
Ketika tak banyak yang bisa dilakukan, ketika tak banyak pilihan rasa yang hadir dalam perasaan. Hanya sayu, hanya kalut, hanya gelisah. Kala itu pikiran hanya bertumpu di pijakan yang cenderung negatif, dan tak sedikitpun bergeser ke positif. Dunia menjadi hanya sesempit kesedihan itu.
Saat itu, betapa memelukmu adalah bagian akhir terindah yang sangat kuharapkan. Saat itu, betapa menangis di dadamu adalah pekerjaan paling melegakan yang tak mungkin kuhentikan sebelum beban ini habis, berhamburan keluar dari hati. Seolah rengkuhan tangan kuatmu bisa berbisik di dasar hatiku, bahwa ‘’Kau, dan hatimu tak layak bersedih, karena semua akan baik-baik saja”. Aku selalu di sini untukmu, menemanimu.
Aku tak bosan-bosannya berkata “Jangan pergi dari hidupku, walaupun sebentar.…

Kamu, sekuat apa yang ada di pikiranmu...

Mungkin kuat adalah bukan kamu tidak menangis ketika sesuatu yang buruk terjadi terhadapmu, atau menahannya mati-matian agar air matamu tidak mengalir. Bertahan dalam kepahitan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mungkin kuat bukanlah kamu yang  tidak pernah merasa ‘jatuh’ atau ‘pahit’ sama sekali.
Kadang, kuat adalah kamu hanya bisa melakukan satu atau beberapa hal, tapi kamu masih belajar untuk melakukan hal lain yang ingin kamu bisa lakukan. Satu demi satu, langkah demi langkah.
Kadang, kuat ada di sesuatu yang sangat kecil di dadamu. Sesuatu yang memberi pengaruh besar dalam hidupmu. Sesuatu yang berapa kali pun kamu dipukul jatuh oleh hidup, kamu bisa berdiri lagi. Sesuatu yang apa pun hal buruk yang terjadi, kamu masih percaya bahwa kamu akan bisa melaluinya bagaimanapun juga. Sesuatu yang berbisik setiap hari di seluruh tubuhmu, “Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Ayo, bangun lagi. Ayo, lakukan lagi. Ayo, hadapi, menangkan pertarungan hidupmu ini.”
Kamu ini pasti k…

Hidup kadang ‘terkesan’ membosankan.

Hidup kadang ‘terkesan’ membosankan. Beberapa kali aku merenungi beberapa kata yang tercetak di pikiranku.-hidup kadang terkesan membosankan.
Pagi selalu datang, siang menghampiri, dan senja menjemput malam. Semua manusia memiliki kesempatan yang sama. Tak ada yang luarbiasa di dalamnya .Kecuali mereka yang mampu melihat keindahan yang ada di fajar, terik dan senja.
Dan di hari yang sama, ku lihat orang lain tertawa, juga ada yang menangis tentang beberapa hal yang mengecewakan. Selian itu,kulihat juga orang yang sedang berfikir keras tentang hidupnya, dan beberapa orang hanya diam, sepertiku. Mungkin sedang mengumpulkan kekuatan untuk melangkah, mungkin sedang meratapi kehampaan dan keterpurukan, dan mungkin memang sedang tidak memikirkan apapun.
Orang akan tertawa jika dia mau melakukannya. Orang akan menangis jika mereka ingin. Orang akan selalu bergerak jika dia mau, dan begitupun, dia akan diam karena itu yang diinginkannya. Semua, segala sesuatu bukan hanya tentang ‘kebetulan’, teta…

Saat Kau Pergi Nanti

Mengertilah...
Kau adalah daun-daun yang tetap menjagaku menjadi pohon kekar yang mengagumkan. Yang tetap memberikan aku nafas kehidupan, yang tidak bisa kudapatkan dari bagian lain dalam hidupku.
Saat kau pergi nanti, 
Saat itu juga dedaunan takkan mampu bertahan di ranting pohon. Setiap hari berjatuhan dan merebahkan tiap helainya di atas tanah. Lalu sang pohon akan merasa semakin rapuh, karena bagian paling berharga dari dirinya telah hilang. Lambat laun pohon yang berdiri kekar itu juga akan berakhir  gersang. Tidak ada makna lagi dalam hidupnya. Sang pohon hanya bisa pasrah ketika  rantingnya yang mulai mengering, menunggu rapuhnya akar, lalu –tumbang.
Mengertilah...
Kau adalah daun-daun itu .Berpeganglah kuat-kuat di tiap ranting-rantingku...Agar aku tak mati, saat kau pergi.

Jujur, Aku Suka--Novel kamu!

Seperti halnya mengejar kereta yang dulu pernah meninggalkanku… Kini nyawaku sedang mati-matian mengejar harapan yang dulu pernah kutinggalkan… ............................................. .............................................
(Kalimat selanjutnya masih di otak, belum bisa dituliskan)


Sebenarnya, banyak sekali yang ingin kutulis, hanya saja aku tak bisa menuliskan semuanya dengan baik. Ribuan huruf  sudah mengambang dan beterbangan di pikiran, tetapi sungguh naas, mereka kebingungan mendapatkan pasangan-pasangannya, hingga tak satupun kata yang dapat tersusun dengan baik. Sumpah! aku benci dengan keadaan semacam ini.
Seperti yang sudah semua orang tahu, aku hanya bisa bertahan menulis dua kalimat pembuka. Biasanya, kalimat berikutnya akan kacau dan sama sekali tidak enak dibaca. Jika sudah begitu, maka saat aku menulis lagi, tak lama kemudian aku pasti menghapusnya. Menulis kembali, tetapi menggantinya dengan kalimat lain. Dan akhirnya aku tidak jadi menulis. 
Inilah jeleknya aku.  …